UMK Khusus Bogor Selamatkan Buruh dari Pengangguran

  • 0 comments
UMK Khusus Bogor Selamatkan Buruh dari Pengangguran

 Bandung Ekpos.com

SK Gubernur Jabar Nomor 561/Kep.344-Yanbangsos/2019 tentang Upah Minimal Khusus Perusahaan Teskstil dan  Produk Tekstil yang telah menetapkan upah minimum khusus sebesar  Rp3.300.244 lebih rendah daripada UMK yang berlaku di kota/kabupaten Bogor. Namun masih berada di atas Upah Minimum Provinsi (UMP). Dinilai telah menyelematkan kehidupan para pekerja tekstil dan Produk Tekstil (TPT) di Kabupaten Bogor karena itu mereka mendukung penetapan UMK khusus untuk TPT di kabupaten Bogor tersebut diterapkan.

Hal ini terungkap dari pengakuan perwakilan para buruh dari Kabupaten Bogor saat memberikan keterangan kepada wartawan di Kantor  Dinas Tenagakerja Provinsi Jawa Barat di Bandung.  Jumat (31/6).

“Pada saat kesepakatan dengan perusahaan 76 persen pekerja setuju dengan Upah minimum khusus yang akan di terapkan Gubernur.  Kami pada dasarnya  ingin perusahaan tetap berdiri dan kami tetap bisa bekerja, karena pihak pabrik siap merelokasi pabrik ke Boyolali dengan upah minimum yang lebih rendah.”  ujar Danuri pekerja Simone Accesory Collection.

Perusahaannya yang mempekerjakan sekitar 6000 karyawan itu  pada saat penandatanganan kesepakatan antara karyawan dan perusahaan tidak ada paksaan.

Dari Appindo yang mendampingi buruh menyebutkan 54 ribu karyawan TPT terancam kehilangan pekerjaannya akibat perusahaan tak bisa bayar akibat kenaikan  UMK yang lalu. Ujar Yanto

Upah Minimum Khusus Rp. 3.3 juta telah disepakati 33 perusahaan yang juga telah memeiliki serikat pekerja.

 “ini menyelematkan industri TPT” ujarnya.

Sementara Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Jabar M. M. Ade Afriandi menyebutkan "Ini memang diberlakukan khusus di Kabupaten Bogor sehingga dikhawatirkan beberapa perusahaan sudah mulai kolaps," kata

SK Gubernur dikeluarkan pada 17 Mei 2019 meskipun dinilai kontroversi oleh serikat pekerja, terpaksa dikeluarkan guna menyelamatkan sekitar 280 ribu buruh tekstil maupun perkebunan akibat perusahaan yang tak mampu lagi menanggung beban upah mereka.@ntz

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet