UIN Bandung Mampu Kembangkan Nilai Nilai Islam Moderat

  • 29 views
  • 0 comments

BANDUNG, EKPOS.Com --- Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si mengatakan, salahsatu bukti dari model pengembangan nilai-nilai Islam moderat di UIN SGD Bandung, bersumber dari Wahyu Memandu Ilmu.

Hal tersebut diungkapkan Mahmud, saat membuka acara Public Lecture bertajuk "Dinamika Hubungan Indonesia dengan Negara-Negara Islam di Kawasan Asia" yang diselenggarakan Pogram Studi Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN SGD Bandu ng bekerjasama dengan Kementerian Luar Negeri-RI di gedung Rachmat Djatnika lantai IV, Kampus I, Jl. A.H Nasution No 105 Cipadung Cibiru Bandung, Selasa (18/12/18) Sore.

"Ketika saya pergi ke Amerika bersama Rektor di lingkungan Perguruan Tinggi dalam menjalankan tugas. Tiba di bandara, hanya saya yang dijemput oleh orang Indonesia yang kebetulan alumni dari kampus. Inilah bukti nilia-nilai kesantrian. Takdimnya seorang murid kepada guru," ungkap Prof Mahmud.

Menurutnya, keberadaan Islam Nusantara sangat spesifik, dimana ekspresinya secara intelektual, kultural, sosial, dan politiknya berbeda dengan ekspresi Islam di belahan dunia yang lain. Islam Indonesia merupakan perumusan Islam dalam konteks Sosio-Budaya Bangsa, yang berbeda dengan pusat-pusat Islam di Timur Tengah.

"Jadi, Islam di Indonesia berkembang sesuai dengan budaya lokal yang menopangnya. Islam hadir dengan wajah yang penuh kedamaian, kesejukan dan inilah yang harus menjadi perhatian bersama umat Islam Indonesia," jelasnya.

Dikatakannya, karakteristik agama dan keberagamaan kita, merujuk pada paham keagamaan Islam moderat. Yakni sebuah paham keagamaan yang mendorong terhadap prilaku keagamaan yang toleran, prilaku saling menghormati di antara sesama umat beragama.

“Islam moderat nampaknya menjadi model pemahaman Islam yang cocok, untuk dikembangkan di Indonesia,” tegas Prof Mahmud.

Sementara itu menurut Dekan FAH, Dr. H. Setia Gumilar, M.Si, dalam kontek Jawa Barat upaya menghadirkan Islam moderat itu, dengan merujuk pada khazanah lokal berupa naskah kuno. Keinginan mewujudkan Pusat Studi Islam Sunda bisa diwujudkan melalui penggalian naskah-naskah kuno.

“Dengan cara mengumpulkan dan melakukan kajian-kajian sejarah Islam di tanah sunda yang tidak lepas dari penyebaran Islam oleh Sunan Gunung Jati. Di mana Cirebon menjadi pusat dakwahnya," paparnya.

Jadi menurutnya, Islam yang moderat itu dapat ditampilkan bukan dengan marah-marah, caci-maki, kekerasan. Keberadaan naskah-naskah kuno di keraton-keraton Cirebon, diyakini bakal membantu dalam memperkaya khasanah sejarah dan peradaban Islam di tanah sunda. Dimana keraton memiliki sumber-sumber primer nantinya menjadi bahan kajian akademis. Mengingat mayoritas naskah di keraton Cirebon berisi tentang ajaran-ajaran tarekat, keislaman, dan pemerintahan kolonial.

"Dengan demikian untuk kontek Jawa Barat, meneladani nilai-nilai dan ajaran Sunan Gunung Djati menjadi sebuah keharusan dalam rangka menegaskan jati diri Islam moderat. Sehingga dapat menghadirkan nuansa dan wajah Islam yang sejuk, indah, damai dan menjungjung tinggi segala perbedaan. Karena, keragaman merupakan sunnatullah," jelasnya lagi.

Cecep Herawan, Dirjend Informasi dan Diplomasi Publik, menjelaskan, acara Public Lecture merupakan rangkaian dari Diplomacy Festival (DiploFest), DiploFest, Kementerian Luar Negeri yang berupaya untuk menghadirkan diplomasi di tengah masyarakat.

“Melalui acara ini diharapkan masyarakat, terutama generasi muda, sebagai aset diplomasi bangsa dapat mengetahui upaya-upaya yang sudah dilakukan Kemlu dalam turut serta melindungi, menyejahterakan, dan mencerdaskan bangsa, serta berpartisipasi aktif menjaga perdamaian dunia," katanya.

Cecep Herawan menyampaikan kegiatan ini dapat meningkatkan peran aktif masyarakat dan generasi muda dalam berbagai kegiatan diplomasi.

"Melalui Diplofest, Kementerian Luar Negeri secara khusus berupaya mengenalkan tugas-tugas diplomat Indonesia di berbagai negara dan organisasi internasional, kepada kalangan muda sebagai generasi penerus pelaku diplomasi di masa depan," pungkasnya.(M Isan)

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet