UIN Bandung Desain Sarjana Tahfizh Al-Qur'an

  • 0 comments

Bandung, Ekpos.com

Upaya mencetak lulusan sarjana ulama zaman now, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung menggelar Workshop Metode Bimbingan Tahfizh Al-Qur'an dengan menghadirkan narasumber: KH Sa'dulloh SQ, M.MPd (Pimpinan Pondok pesantren Al-Hikamussalafiyyah Sumedang), Prof. Dr. Dinn Wahyudin, M.Ed (Guru Besar bidang Ilmu Pengembangan Kurikulum UPI), Dr. Acep Suryadi Fatoni, M.Si (Dosen Pendidikan Fisika dan Pendidikan Teknologi Dasar UPI) yang berlangsung di Hotel Puri Khatulistiwa, Jl Raya Jatinangor Sumedang, Jumat (17/05/2019).

Dekan FTK, Dr. Tedi Priatna, M.Ag didampingi Ketua Pelaksana, Hariman Surya Siregar, M.Ag,  menjelaskan "kegiatan workshop yang diikuti 205 peserta terdiri dari dosen dan tenaga kependidikan FTK ini dilatarbelakangi oleh kenginan dari semua civitas akademik tentang penyempurnaan model dan panduan khusus soal cara membimbing tahsin dan tahfid al-Quran, sehingga memudahkan dosen melaksankan bimbingan pada kegiatan tersebut," tegasnya.

Dekan FTK, Dr. Tedi Priatna, M.Ag menuturkan workshop ini bertujuan "untuk memberikan pemahaman yang komfrehensif bagi dosen di lingkungan FTK tentang cara atau model membimbing mahasiswa pada kegiatan bimbingan tilawah, bimbingan tahsin dan tahfidz," paparnya.

Sedangkan untuk mahasiswa, "kegiatan ini sebagai support dari instruksi Rektor UIN SGD Bandung, bahwa semua mahasiswa UIN SGD Bandung setelah menyelesaikan studinya harus baik, mahir bacaan Alqurannya, dan minimal harus hafal 1 Juz Alquran (juz 30)," jelasnya

Menurut KH Sa'dulloh SQ, M.MPd untuk mewujudkan cita-cita mulia menjadi Hafidz Alquran, seperti dalam hadits riwayat Bukhori, Sebaik-baik kamu sekalian adalah orang yang belajar Alquran dan mengajarkannya.

"Prinsip menghafal Alquran adalah proses mengulang-ulang bacaan Alquran. Karena penghalang utama menghafal Alquran itu malas. Saat bulan ramadhan inilah momentum yang pas untuk mengulang-ulang bacaan. Dalam semalam saya bisa mengulang 1,5 juz, sehingga dalam 20 malam bisa hatam Alquran," ujarnya.

Sebelum menghafal Alquran seorang calon hafizh harus membenarkan pengucapan dan bacaan dalam Al-Qur’an, agar mudah untuk menghafalnya, maka calon hafizh harus khatam Alquran 30 juz secara bin-nazhar (melihat mushaf), dan menggunakan satu mushaf Alquran.

"Menggunakan satu mushaf menjadi penting untuk menghafal Alquran supaya  tetap terjaga hafalannya. Waktu yang tepat untuk membaca dan mengulang hafalan itu sepertiga malam sekitar jam 3 pagi di masjid," paparnya.

Diakuinya, untuk menjaga hafalan Alquran bisa menggunakan metode Tahsin, yaitu metode untuk menyempurnakan semua hal yang berkaitan dengan kesempurnaan dalam pengucapan huruf-huruf Alquran. Mulai dari kesempurnaan sifat yang senantiasa harus melekat padanya, sampai pada pengucapan hukum bacaan satu huruf dengan lainnya seperti hukum nun mati dan tanwin, mim mati, hukum bacaan mad, dan sebagainya. 

"Prinsip membaca Alquran itu haqqa tilawah yakni membaca dengan sebenar-benar bacaan. Sebaiknya mereka yang sudah hafal dengan menggunakan metode Tahsin tidak langsung membimbing kepada calon tahfizh, tapi harus memperdalam pemahaman tentang kandungan Alquran untuk dijadikan pedoman dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari," jelasnya.

Dalam konteks kampus diperlukan dukungan dan kebijakan pimpinan untuk mencetak generasi Qurani. "Jangan sampai, banyak perlombaan tahfizh digelar, tapi yang mengujinya masih melihat Alquran karena memang tidak hafal Alquran 30 juz. Perilaku ini yang saya kritik," keluhnya.

Untuk mencetak generasi Qurani di lingkungan UIN SGD Bandung setiap tahunnya digelar Olimpiade Alquran antar fakultas dalam bidang tilawah (Musabaqah Tilawatil Quran/MTQ) dengan kategori mujawwad, dan tahfidz (Musabaqah Hifdzil Quran/MHQ). 

Inilah para pemenang: untuk 5 juz; Yosep Solihin Nadzir, mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Wildan Rahmat Fauzi, mahasiswa Fakultas Ushuluddin (putra), Ayi Jamilah dan Nuri Noor Azizah, mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (putri).

Untuk 10 juz; Ahmad Jawawi, mahasiswa Fakultas Syariah dan Hukum (putra), Lia Nursa’adah, mahasiswi Fakultas Dakwah dan Komunikasi (putri).

Untuk 20 juz; Rifat Al-Banna, mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Dede M. Mansur, mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (putra), Fathu Saadatil Ummah, mahasiswi Fakultas Ushuluddin, Ella Relawati, mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (putri).

Untuk 30 juz ; Ibrahim Abdul Jabbar, mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Yuyu Wahyudi, mahasiswa Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (putra), Santi Yulianti, mahasiswi Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (putri).

 Berkat bimbingan dosen dan unit Tahfizh di lingkungan FTK, Dekan menjelaskan untuk mahasiswa yang hafal 30 juz berjumlah 3 orang, 20 juz berjumlah 5 orang, 10 juz berjumlah 7 orang dan 5 juz berjumlah 15 orang. "Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan workshop ini dapat meningkatkan kualitas keimanan danketakwaan karena dilakukan pada saat shaum. Yang terpenting FTK ikut andil dalam mencetak lulusan UIN SGD Bandung sebagai sarjana ulama zaman now," katanya. *** (harry)

 

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet