Tersangka Kasus Suap Meikarta Curhat Lewat Vlog Youtube

  • 0 comments

BANDUNG, Ekpos.Com---Tersagka kasus suap mega proyek Meikarta, mantan Presiden Direktur PT. Lippo Cikarang Tbk Bartholomeus Toto, muncul di Video sebuah akun vlog Youtube. Ia berbicara panjang lebar soal kasus suap Meikarta dan penahan dirinya. Akun, Vlog Youtube sebanyak tiga video itu, diunggah, Sabtu (29/11/2019).   

Di akun tersebut, terdapat tiga video, yang pertama berjudul Toto dan Meikarta, video kedua babak baru kasus Meikarta episode rekayasa, dan video ketiga bedah kasus kenapa saya ditersangkakan.

Dalam video pertama, Toto berbicara bahwa KPK telah menuduh dirinya memberikan uang suap sebesar Rp. 10,5 Milyar kepada mantan Bupati Bekasi Neneng Hasanah Yasin, utuk memuluskan proyek perizinan Meikarta, yaitu Izin Pengunaan Pemanfaatan Tanah (IPPT).

“Tujuan dan alasan membuat Vlog, agar anak-anak saya, keluarga besar, kerabat dan teman-teman supaya mengetahui fakta sebenarnya yang terjadi dan prinsip-prinsip yang saya yakini,” ujar Toto dalam video tersebut.

Begitu juga, teman-teman sesama profesional, khususnya para eksekutif dan komunitas Jepang dan siapapun yang bekerja, dan melakukan investasi di Indonesia supaya mengetahui resiko-resiko yang bisa terjadi.

“Selain itu, video juga untuk menjaga nama baik almarhum orang tua saya, yang sudah mendidik saya untuk selalu jujur, terus berjuang tanpa kompromi, menjunjung kebenaran, dan senantiasa berserah kepada Tuhan,” tuturnya.

Dikatakan Toto, sebelum mengundurkan diri dari PT. Lippo Cikarang Tbk, dirinya bekerja di lingkungan Lippo Grup sudah hampir 30 tahun lamanya. Sejak lulus kuliah karirnya diawali dengan bekerja di Lippo Bank sebagai seorang account officer, lalu setelah menjabat berbagai macam posisi, sampai akhirnya Toto menjabat salah satu direksi di Lippo Bank.

Toto juga menjelaskan, selama 26  tahun hampir 90% karir dirinya di bidang perbankan khususnya di bidang teknologi operasional di cabang-cabang. Kontribusi terakhir di perbankan Lippo Grup mendirikan Ovo Bank yang izin e-money nya digunakan Ovo. Pada tahun 2016, melalui RUPS Luar Biasa (LB), dirinya diangkat menjadi Presiden Direktur PT. Lippo Cikarang Tbk.

Reaksi pertama yang diungkapkannya sejak diangkat menjadi Presiden Direktur PT. Lippo Cikarang Tbk merasa keberatan, karena property bukan bidang keahliannya. Tapi, dirinmya bukan tidak mau belajar.

“Saya tidak memiliki pengalaman sama sekali dibidang proprty, sementara tanggung jawab yang diemban begitu besar, “ jelas Toto.

Dituduh Edy Suap Rp. 10,5 Milyar

Justru berangkat dari proverti yang bukan bidangnya, kini dirinya ditetapkan jadi tersangka dan ditahan KPK sejak satu pekan lalu. Ia dianggap menyerahkan uang Rp 10,5 Milyar pada Neneng Hasanah Yasin via Kepala Divisi Land Ackuisition Permit PT Lippo Cikarang, Edy Dwi Soesianto. Bahkan dalam kasus tersebut  Neneng sudah divonis bersalah menerima suap mega proyek Meikarta.

Dipersidangan 14 Januari 2019, Edy menyebutkan ia menerima uang dari Melda Peni Lestari selaku sekretaris direksi PT Lippo Cikarang senilai Rp 10,5 Milyar sepengetahuan Toto. Uang itu sebagai imbalan pengurusan IPPT bagi Neneng lewat ajudanya.

"Saya ditanya apakah pernah saya sebagai presdir keluarkan uang tidak resmi Rp 10,5 Milyar. Saya jawab tidak pernah. Lagian, sebagai perusahaan publik yang keuangannya diaudit dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mana mungkin saya keluarkan uang tidak resmi sebesar itu. Saya juga tidak punya otoritas untuk menganggarkan uang di luar yang sudah dianggarkan," ujar Toto.

Melda Peni Lestari sempat dihadirkan sebagai saksi di persidangan untuk dikonfirmasi soal penyerahan yang Rp 10,5 Milyar di helipad PT Lippo Cikarang. Melda juga, membantah semua pertanyaan jaksa KPK dan hakim soal pemberian uang itu dan konsekuensinya, walaupun ia sempat diancam jaksa karena memberi keterangan palsu.

“Saat itu, Melda diperiksa sebagai saksi di sidang. Dia tidak mengetahui soal pemberian uang. Di sidang dia tertekan, bahkan akibat adanya tekanan dia yang kondisinya sedang hamil muda  jadi keguguran," ujarnya.

Selama berbicara  di video, Toto lebih banyak berbicara tidak terima dengan penahanannya. Pasalnya, ia menganggap jadi tersangka karena keterangan saksi Edy Dwi Soesianto di persidangan, tanpa didukung bukti lain.

Selain itu, di video,  Toto juga menyinggung soal KPK hingga James Riyadi. Atas penahanan Toto, pengacaranya Supriyadi diketahu sudah mengajukan gugatan dan praperadilankan KPK ke Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Ia menyatakan, alasan mengajukan gugatan praperadilan yakni Bartholomeus Toto ditetapkan tersangka hanya berdasar satu alat bukti.

Dalam kasus dugaan pemberian suap untuk memuluskan perizinan Meikarta ini, Pengadilan Tipikor Bandung sudah memvonis bersalah sejumlah pihak yaitu, Billy Sindoro, Fitradjaja Purnama, Henry Jasmen dan Taryudi.

Dalam kasus Meikarta ini juga, telah banyak menyered para pejabat di Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi, dan dinyatakan bersalah karena telah menerima suap. Yakni, Neneng Hasanah Yasin, Jamaludin, Sahat Banjarnahor, Dewi Tisnawati dan Neneng Rahmi Nurlaili. KPK mengembangkan kasus ini dengan menetapkan Bartholomeus Toto dan Sekda Jabar Iwa Karniwa sebagai tersangka.

Toto sendiri atas divonisnya Billy Sindoro, dalam kasus Meikarta dia menganggap sudah selesai. Atau tidak ada keklanjutan dan dan tidak ada lagi yang jadikan tersangka. Namun, Toto tak menduga kalau pada akhirnya ia pun terseret dan dijadikan tersangka.

Padahal sebelumnya ia masih berfikiran kalau masalah hukum harus ada pembuktian, tidak bisa semena-mena menuduh sembarangan orang menjadi tersangka, apalagi menyangkut KPK.

Ia pun tak menyangka kalau narasi persidangan Edy Dwi Soesianto yang memfitnah dirinya telah menyuap Rp. 10,5 Milyar dijadikan alasan untuk menetapkan dirinya menjadi tersangka. Padahal, tidak ada sutupun saksi lain yang menunjukan keterlibatan dirinya dalam kasus suap Meikarta.

 

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet