Sejumlah Mahasiswa Alami Luka Memar Akibat Bentrok Dengan Polisi

  • 0 comments

SERANG, Ekpos.Com---Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Jabotabeka-Banten terlibat bentrok dengan aparat kepolisian. Akibat bentrokan tersebut beberapa orang mahasiswa mengalami luka memar di bagian muka dan badanya akibat dihantam petugas.

Bentrokan tersebut terjadi berawal ketika kelompok mahasiswa tersebut melakukan aksi unjuk rasa menuntut Gubernur Banten, Wahidin Halim turun dari jabatannya, di depan Kantor Gubernur Banten, Curug, Kota Serang, Kamis (11/4/2019).

Dalam aksi tersebut, mahasiswa mulai membakar ban. Sehingga petugas mencoba memadamkan api, namun dihadang oleh massa aksi. Akhirnya kericuhan antara mahasiswa dengan pihak kepolisian, tak terbendung hingga terjadi adu jotos.

Akibatnya, sejumlah mahasiswa terkena pukulan dan tiga orang diamankan petugas kepolisian. Massa aksi pun dipaksa membubarkan diri hingga akhirnya mahasiswa pun tarik mundur.

“Wahidin Halim kami nyatakan telah gagal dalam memimpin Banten dalam memerangi korupsi, Rp23 milyar lebih uang negara dirugikan. Tak hanya itu maraknya ia juga terkesan melakukan pembiaran terjadinya proses jual beli jabatan di tubuh pemerintahan Banten,” kata korlap aksi Aliga, saat berorasi di depan kantor Gubernur Banten.

Ia juga menambahkan, pihaknya menilai adanya keterlibatan Aparatur Sipil Negara (ASN) dalam pemilu 2019 ataupun politik praktis. Hal tersebut semakin menjelaskan bahwa carut-marutnya birokrasi di Pemerintahan Provinsi Banten menjangkit dan teramat kronis.

“Sudah bukan rahasia umum lagi bahwa keberpihakan ASN yang mendukung mahkota Banten (anak dari Gubernur). Hal itu tidak sesuai dengan kode etiknya, itu menggambarkan birokrasi pemerintah sudah carut marut bahkan kronis. Untuk itu Wahidin Halim tidak pantas lagi menjadi pemimpin Banten. Maka dengan ini kami meminta WH mundur dari jabatannya,” teriaknya dengan suara lantang.

Mahasiswa juga menyayangkan, dengan adanya keterlibatan ASN yang nampak jelas mendukung anak Wahidin Halim di pemilu ini, terlihat jelas akan membangun dinasti baru di tanah jawara dengan memanfaatkan kekuasannya.

“Ini terbukti bahwa WH sedang membangun dinasti baru yang mendorong anaknya maju sebagai DPD RI dan menyeret ASN untuk mesukseskannya,” tegasnya.

Maka dengan demikian HMI menuntut jatuhkan sanki terberat kepada ASN yang tidak netral, usut tuntas indikasi korupsi di OPD, usut tuntas oknum dalam proses jual beli jabatan, copot Wahidin Halim sebagai gubernur dan menolak bentuk nepotisme dalam upaya membentuk politik dinasti.

Adanya aksi pemukulan oleh petugas terhadap massa aksi mengundang perhatian Ketua Aliansi Independen Peduli Publik (ALIPP) Uday angkat bicara.

“Sebagai warga Banten dan seorang alumni HMI sy mengecam pemukulan para mahasiswa yg tengah menyuarakan aspirasinya,” tegasnya.

Menurut Uday, apapun dalihnya menggunakan cara-cara kekerasan tidak pernah dibenarkan dalam prinsip-prinsip kemanusiaan. Ini menjadi bukti bahwa gubernur Wahidin Halim telah membiarkan kekerasan terjadi dihalaman kantornya yg notaben dibangun oleh uang rakyat.

“Banyak cara untuk merespon sikap kritis mahasiswa, tapi sekali lagi, tidak dengan cara kekerasan. Oleh karena itu, para oknum aparat yang melakukan pemukulan tersebut harus ditindak tegas,” ungkap Uday. ***

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet