Pengusaha Garmen Keluhkan Upah Karyawan Terus Meroket Tiap Tahun

  • 0 comments

BANDUNG, Ekpos.Com---Kondisi produksi garmen di Jawa Barat yang semakin memberatkan, terutama mengenai peningkatan upah karyawan yang melesat lebih dari tiga kali lipat dalam tujuh tahun terakhir ini membuat para pengusaha garmen asal Korea Selatan mulai resah.

Hal tersebut disampaikan Ketua Asosiasi Perusahaan Garmen Korea Selatan di Indonesia, Ahn Chang Sub, kepada Gubernur Jabar Ridwan Kamil dalam kegiatan CEO and Ambassador Breakfast Meeting di Hotel Hilton, Kota Bandung, Kamis (24/10/2019).

Ahn yang juga perwakilan Kamar Dagang Korea Selatan ini mengatakan, jumlah industri garmen yang dikelola Korea Selatan di Jawa Barat ini mencapai 250 perusahaan dengan 350 ribu karyawan.

“Pada 2012, upah karyawannya baru sebesar Rp 1,2 juta per bulan. Namun kini, naik lebih dari 3 kali lipat, menjadi di atas Rp 4 juta per bulan. Hal ini sangat memberatkan perusahaan,”keluhnya.

Menurutnya, Opsi memindahkan pabrik garmen ke Kecamatan Majalengka atau Jawa Tengah yang memiliki upah minimum lebih rendah, bukan solusi yang dapat menjawab permasalahan tersebut.

"Upah di daerah lain separuh dari upah di Jabar, tapi skill worker di sana kurang. Karyawan yang sekarang tidak mau pindah juga kalau ke Majalengka," kata Ahn dalam kesempatan tersebut.

Ahn mengatakan kemampuan dan produktivitas karyawan di Jawa Barat, khususnya yang sekarang menjadi kawasan industri, nyaris tidak dapat ditemukan di daerah lain. Sehingga, pindah pabrik dinilai bukan solusi tepat.  Pihaknya sudah mengikuti rapat di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Barat tentang upah buruh untuk 2020 dan kondisi industri garmen saat ini. Untuk itu pihaknya meminta upah ditetapkan dengan angka yang kompetitif dengan negara atau provinsi lain.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan, salah satu solusi yang ditawarkan adalah membangun apartemen di dekat pabrik. Sehingga karyawan bisa tinggal dekat tanpa harus mencari tempat bermukim dan beradaptasi lagi.

"Makanya solusi Jabar yaitu membikin cluster capital intensif, yang mahal teknologinya. Jadi Karawang enggak cocok buat tekstil. (Tekstil dan garmen) nanti upahnya di zona paling bawah, nanti kita geser. Memang selalu ada pergeseran," katanya.

Ridwan Kamil mengatakan pemerintah menengahi pengusaha dan pekerja supaya mendapat kesepakatan terbaik mengenai upah. Dengan demikian, nilai investasi di Jabar di bidang manufaktur pun tidak akan berkurang.

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet