Penguasaan Bahasa Nasional Jadi Kendala Rendahnya Kualitas Siswa

  • 165 views
  • 0 comments

SUMBA TIMUR--- Salah satu penyebab  rendahnya kualitas siswa kelas awal,  karena rendahnya penguasaan bahasa pengantar pembelajarannya yaitu Bahasa Indonesia. Hal itu berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Sumba oleh ACDP pada tahun 2016.

“Agar anak-anak mampu menguasai materi ajar secara cepat, diperlukan cara-cara transisi bahasa pengantar pembelajaran dari bahasa daerah ke bahasa Indonesia secara lebih  efektif.  Selama ini agar siswa cepat mengerti materi yang disajikan, para guru di kelas awal membawakan materi pembelajarannnya dengan melakukan penerjemahan langsung bahasa Indonesia ke Bahasa Daerah,”papar Yulius, guru di SD Kadahang Sumba Timur, saat workshop yang diselenggarakan INOVASI di SD Kadahang, Haharu, baru-baru ini. 

Berbanding terbalik dengan pernyataan yang dilontarkan Johnny Tjia, ahli linguistik dan konsultan INOVASI untuk proyek rintisan Transisi Bahasa Pengantar Pembelajaran di Sumba Timur. Menurutnya, cara yang dilakukan oleh para guru dengan selang-seling menggunakan  Bahasa Indonesia dan bahasa daerah ini kurang efektif untuk mendukung pembelajaran siswa.   

“Mereka akan terbawa-bawa meniru gurunya untuk berbicara campur-campur dalam kesehariannya, yang mengakibatkan cara berbahasanya tidak sesuai dengan kaidah berbahasa dan kosa kata yang tepat. Hal tersebut bisa menyusahkan anak dalam proses bernalar secara cepat dan juga menulis,” ujarnya.

Menurut Doktor Ahli Linguistik lulusan Leiden ini ada beberapa strategi yang bisa dilakukan. Ia menamakannya dengan strategi 90 : 10, dan 50 : 50.

“Strategi ini hanya penamaan saja, dalam penerapannya sangat fleksibel.  Yang dimaksud 90 banding 10  yaitu ketika mengajar kelas awal. Guru hanya menggunakan bahasa lokal saja, tanpa penggunaan Bahasa Indonesia dari hari, katakanlah, Senin sampai Jumat. Tidak boleh menerjemahkan langsung ke bahasa daerah.  Di hari Sabtu, guru menggunakan Bahasa Indonesia secara full, tapi pada materi yang sudah dimengerti siswa dan diajarkan sebelumnya,” ujarnya. 

 Menurutnya, hal ini sangat penting dilakukan , agar siswa benar-benar mengerti konten  pembelajaran.

“Yang paling penting dalam pelajaran itu adalah pengetahuannya atau konten pembelajarannya. Karena dibawakan dalam bahasa ibu mereka, nalar mereka akan jalan, dan konsep-konsep pembelajaran akan lebih mudah  mereka mengerti.  Kalau dibawakan dalam Bahasa Indonesia atau selang seling dengan Bahasa daerah, siswa kemungkinan besar akan sedikit menyerap konten pembelajaran. Konsentrasi mereka juga terpecah belajar bahasa baru,“ ujarnya.

 

Demikian pula konsep 50:50;  setelah merasa para siswanya mengerti konten pembelajaran karena sudah disampaikan dalam Bahasa daerah secara penuh, para guru dapat menggunakan Bahasa Indonesia pada topik pelajaran yang sama. Misalnya pada hari Senin, Selasa, dan Rabu, memakai bahasa daerah dan hari selanjutnya yaitu hari Kamis sampai Sabtu memakai bahasa Indonesia.

 “Intinya tidak selang-seling atau langsung menerjemahkan. Dalam pelajaran dengan topik yang sama,  pertama digunakan Bahasa Daerah dahulu secara penuh, dan ketika guru yakin semua siswa menyerap pembelajarannya, barulah  menggunakan Bahasa Indonesia,” ujarnya

Pendekatan model ini, sebagai langkah awal,  akan diterapkan di SD Wunga, SD Kadahang dan SD Kapunduk di Kecamatan Hahar, Sumba Timur sebagai sekolah rintisan.  “Program Rintisan Pembelajaran Menggunakan Multi Bahasa Bagi Siswa Penutur Bahasa Daerah” yang diprakarsai oleh INOVASI bekerjasama dengan Kemendikbud dan pemerintah daerah setempat. Para guru di SD tersebut sudah berlatih dan menyatakan kesiapan untuk melakukannya. ***

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet