Pasar Buhun Digelar Bagi Penikmat Makanan Sunda Buhun

  • 192 views
  • 0 comments

BANDUNG, Ekpos.Com---Gelaran Pasar Buhun, yang dilaksanakan Sabtu, (21 April 2018) di ZIE CAFE Jln Vandeventer no 14 Bandung, merupakan langkah awal yang dilakukan Yayasan Pitaloka untuk “Ngamumule” (melestarikan) makanan buhun masyarakat Sunda.

Beberapa jenis makanan yang usianya rata-rata sudah lebih dari satu abad, dipasarkan denbgan suasana kampung. Bahkan beberapa jenis makanan seperti angleng dan dapros, sempat diperagakan cara pembuatannya.

Untuk bahan baku angleng, menggunakan bahan baku selain tepung beras, ketan dan kelapa, juga gula aren. Dari cara pengolahannya pun selain memakan waktu juga campuran bahannya harus pas tidak asal takar.

"Waktu yang dibutuhkan untuk memasaknya sekitar 15 menit. Namun apinya tidak boleh terlalu besar, karena dapat berpengaruh terhadap rasa," kata Ibu Elis (65) salah serang juru masak dengan tersipu malu. 

Diungkapkan Elis, setelah 15 menit Angleng dimasak dikuali, dan gula aren mulai mengental, lalu digulung dengan plastik atau daun pisang.

"Makanan ini dinamakan angleng, karena saat proses pembuatannya, digeleng-geleng," tambahnya.

Sementara penggagas Pasar Buhun Gita mengungkapkan, event ini merupakan Kerjasama (PBWBGS) dan Yayasan Pitaloka juga beberapa pihak yang peduli dan ingin melestarikan makanan khas Sunda buhun. Termasuk para pelaku seni asli Jawa Barat yang ingin menjaga pola hidup sehat dengan makanan dan minuman Sunda organik. 

"Selain ingin memelihara makanan warisan leluhur, kami juga ingin merasakan suasana mudik. Jadi Pasar Buhun ini salah satu langkah strategis, sistematis, yang sengaja kami ciptakan sebagai destinasi wisata gastronomi Sunda di Kota Bandung," kata Gita. 

Dimintai komentarnya, Dewi Turgarini dosen Gastronomi UPI Bandung, menyatakan, pihaknya  menyambut baik gagasan Gita dari yayasan Pitaloka untuk menggelar Pasar Buhun. Karena, selain sesuai dengan ilmu yang digelutinya, juga da kesamaan rasa untuk melestarikan makan khas Sunda Buhun. Bahkan pihaknya mensuport dengan mendatangkan beberapa pelaku pembuat makanan buhun.

"Kami optimis, dengan diadakan Pasar Buhun ini, kecendrungan masyarakat akan kesehatan, semakin meningkat. Sebagai dukungan, dan bentuk kepedulian untuk melestaraikan makanan Sunda Buhun, kami menyelenggarakan pendidikan khusus tentang bagaimana mengelola, membuat serta memasarkan makanan olahan Sunda Buhun,” paparnya.

Sedangkan ketika disinggung apakah pasar buhun ini akan berkesimbungan atau tidak, baik Gita maupun Dewi secara serempak menjawab kalau hal tersebut akan terus dilaksanakan dalam satu minggu sekali.

“Kami akan selenggarakan setiap hari Minggu pagi. Kalau di Dago ada Car Free Day (CFD), kalau di sini (Zee Cafe, Jl. Vandeventer)ada Pasar Buhun. Waktunya sama, kita mulai dari jam 07 pagi- selesai. Dengan jenis makanan yang berbeda-beda dalam setiap minggunya,” jelas mereka.

Untuk mereka menghimbau bagi masyarakat pecinta makanan buhun, untuk datang ke Zee Cafe setiap minggu pagi. Ganefa

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet