Kuasa Hukum: Dakwaan JPU Tidak Sesuai Fakta-Fakta

  • 88 views
  • 0 comments

Banjarmasin, Ekpos.com

Setelah ditutut 3,5 tahun Penjara Ahmad Norjaini, SH alias Amat Hirang terdakwa kasus dugaan pengancaman dan pemerasan bersama Syaifulaah, Hadran seta M.Arif  didepan Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN)  Banjarmasin, Kamis (2/11/2017) pada sidang pembelaan, buka suara. 

Dalam pembelaan yang disampikan Kuasa Hukumnya dihadapan mejelis Hakim yang diketuai oleh Afandie Widarjanto, SH membeberkan fakta bahwa, dirinya sempat dipaksa oleh JPU untuk mengakui sesuatu perbuatan atau tindakan yang tidak pernah dilakukannya. Terhadap tuntutan yang diajukan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dinilai tak sesuai fakta yang ingin diterapkan kepada  terdakwa Akhmad Norjaini alias Amat Hirang bin (Alm) Basri dan Syaifulah bin (Alm) Syahran. 

Pasal berlapis yang dipakai JPU Rezky Purbo Nugroho dari Kejaksaan Negeri (Kejari) Banjarmasin, dituding tak satupun memenuhi unsur melawan hukum atau perbuatan pidana yang disangkakan pada terdakwa. Sebaliknya,  JPU dinilai memaksakan menerima berkas perkara yang dinilai kuasa hukum terdakwa belum lengkap. 

Disampaikan juga, jika JPU membuat tuntutan tidak berdasarkan fakta-fakta persidangan, namun berdasarkan pemaksaan kehendak pribadi, supaya terdakwa dihukum seberat-beratnya. “Tanpa mau melihat kenyataan ataupun fakta yang terjadi di lapangan yang menjelaskan bahwa  terdakwa tidak melakukan tindak pidana seperti yang dituduhkan JPU Atas fakta hukum selama persidangan ini,” imbuhnya.

Di hadapan majelis hakim yang diketuai Afandi Widarjanto,  Isai juga  membeberkan semua fakta dan bukti yang terungkap melalui sejumlah saksi yang dihadirkan dalam kaitan perkara dugaan pemerasan dan pemaksaan diatas tidak satupun terbukti melanggar pasal 170 ayat (1) KUHP tentang dengan terang-terangan dan dengan tenaga bersama menggunakan kekerasan terhadap orang atau barang.

Kemudian, dalam dakwaan primer pasal 368 ayat (1) KUHP tentang melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan dengan maksud untuk menguntungkan diri sendiri atau orang lain secara melawan hukum, memaksa seseorang dengan kekerasan atau ancaman kekerasan untuk memberikan barang sesuatu yang seharusnya atau sebagaian adalah milik orang lain, atau supaya membuat hutang maupun menghapus piutang) jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Pada dakwaan subside  terutama pasal 355 ayat (1) ke-1 tentang melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan secara melawan hukum memaksa orang lain supaya melakukan tidak melakukan atau membiarkan sesuatu dengan memakai kekerasan atau ancaman kekerasan, jo pasal  55 ayat (1) KUHP.

Menurutnya, terdakwa maupun tuntutan JPU jelas tidak terbukti, karena berdasarkan keterangan saksi –saksi lain, bahkan pemilik toko (H Syaiful Anwar) yang juga bersaksi saat di persidangan mengakui dirinyalah yang membuka kunci gembok rolling door toko No 3 di Jalan Ujung Muring itu dan ini diperkuat oleh keterangan saksi-saksi yang dibawa oleh JPU.

“Dengan demikian pasal yang dituduhkan JPU dalam pasal 170 Ayat (1) KUHP tidak tepat dan tak benar,” bebernya.

“Saya mohon majelis hakim untuk membebaskan kedua klien saya dari segala tuntutan,” pinta Isai Panantulu Nyapil, dalam pledoi yang dibacakannya didepan Majelis Hakim di PN Banjarmasin.

Untuk diketahui, kasus dakwaan pemerasan dan pengrusakan toko tersebut naik ke persidangan dikarenakan adanya pengingkaran dari penyewa Toko Adreansyah (status sebagai pelapor)  tentang kepemiklikan Toko yang ditempatimya sehingga selama 11 tahun tidak membayar sewa ) kepada pemilik toko yaitu H Syaiful Anwar. Kemudian atas tindakan Andreansyah ini , pemilik toko menguasakan kepada Akhmad Norjaini untuk menyelesaikan masalah pembayaran sewa atau mengosongkan tokonya. Akmad Norjaini dan rekan serta H Syaiful sudah beberapa kali memberikan somasi pada pelapor (penyewa), namun tidak diindahkan.

Pada  Jumat 28 Juli 2017, ketiganya bermasuk melakukan eksekusi atas hak miliknya dengan disertai ketua RT setempat, petugas Dinas Pasar Banjarmasin, serta membawa surat permohonan dari Polsekta Banjarmasin Tengah, tetapi oleh unit Jatantras Kepolisian Resort kota Banjarmasin, dilakukan penangkapan. (MN) Teksa foto Kasus Dugaan Pengancaman dan Pemerasan yang dituduhkan terhadap Ahmad Norjaini alias Amat Hirang dan Kawan-kawan yang disidangkan di Pengadilan Negeri Banjarmasin, setelah menjalani beberap kali persidangan pada sidang Pembelaan Terdakwa dan Kuasa hukum terdakwa Isai Panantulu Nyapil (Isai) ungkap JPU (Jaksa Penuntut Umum) lakukan  memaksakan untuk tersangka mengakui suatu perkara atau tindakan yang tidak dilakukan oleh terdakwa.

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet