Ketua AFI UIN Bandung, Raih Gelar Doktor Filsafat

  • 51 views
  • 0 comments

Bandung, Ekpos.com

Orang yang konsisten, ulet, sabar dan penuh motivasi selalu berbuah manis dalam hidupnya. Itulah ungkapan yang pantas disematkan kepada Muhlas.

Pria berpenampilan perlente dan low profile ini, layak dan pantas meraih gelar prestise dalam bidang akademis dengan  mengukir dengan tinta emas dalam karir hidupnya  meraih gelar Doktor Filsafat Agama, Konsentrasi Filsafat Agama, dengan  IPK  3,72 Yudicium sangat memuaskan dalam sidang terbuka Promosi Doktor yang di gelar di Aula Utama Gedung Pasca Sarjana UIN SGD Bandung, Jln. Soekarno-Hatta, Selasa, (19/09/2018).

Dihadapan promotor dan tim penguji Prof. Dr. Dadang Kahmad, M.Si., Prof. Dr. Afif Muhammad, MA., Dr. H. Nur Samad Kamba, MA., Prof. Dr. Asep Saepul Muhtadi, MA., Prof. Dr. I. Sugiharto, Dr. H. Adeng Muchtar Ghazali, M.Ag., dan Prof. Dr. Agus  Salim Mansur, M.Pd., Pria trah Galuh ini, sanggup dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan tim penguji.

Bahkan dengan lihai dan argumentatif bisa mementahkan, meyakinkan, sekaligus menjelaskan secara detail, semua sanggahan yang di ajukan tim penguji.

Pria Jebolan S2 UGM ini memaparkan bahwa Haji Hasan Mustafa merupakan tokoh Sunda pada jamannya yang multi talenta, dikenal minculak (berbeda dengan yang lain) dan produktif dalam berkarya, terutama karya dalam konsep dan pemikiran Tasawuf.

Menurutnya, berpijak dari karya Haji Hasan Mustafa yang bercorak tasawuf, ada hal yang menarik dan sesuai dengan tema filsafat abad XX/XI yaitu bahasa (logos).

Haji Hasan Mustafa mengemas ajaran tasawufnya dengan bahasa biasa, meskipun corak tasawufnya sangat  filsafati. Hal ini sangat dimungkinkan apabila pemikiran tasawufnya dianalisis dengan filsafat bahasa biasa.

Dengan demikian penelitian ini berobjek material pemikiran tasawufnya Haji Hasan Mustafa, sementara objek formalnya adalah sebuah tinjauan filsafat bahasa biasa dengan menggunakan konsep speech acts dan language game.

Laki laki  yang menjabat Ketua Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI), Fakultas Ushuluddin, UIN SGD Bandung ini, merumuskan tiga masalah, pertama bagaimana pemikiran tasawuf Haji Hasan Mustafa, kedua, bagaimana tinjauan Speech Acts dan Language Game terhadap konsep dan bahasa tasawuf  Haji Hasan Mustafa, ketiga apa corak Tasawuf Haji Hasan Mustafa.

Sedangkan metode yang digunakannya adalah hermeneutika, yaitu tentang penafsiran makna. Menurut dia, Hermeneutika sebagai metodologi penelitian filsafat, mempunyai unsur-unsur metodis diantaranya; deskripsi, kesinambungan historis, bahasa insklusif/analogal dan interpretasi.

Sementara landasan teori yang digunakan untuk menganalisis tasawuf Haji Hasan Mustafa adalah konsep speech acts John Langshaw Austin yang terdiri dari Tindakan lokusi (locutionary act), tindakan ilokusi (illocutionary act), dan tindakan perlokusi (perlocutionary act), juga konsep language game Ludwig Wittgenstein yang terdiri dari  tentang tata aturan main bahasa (role of game) dan kemiripan pada anggota keluarga (family resemblances).

Dalam disertasinya, Suami dari Nia Yuniarti, S.Ag., ini mengungkapkan penemuannya yaitu :

1. Pemikiran tasawuf Haji Hasan Mustafa, bermuara pada ajaran martabat tujuh yang telah disesuaikan dengan masyarakat Sunda. Ajaran martabat tujuh oleh Haji Hasan Mustafa dipublikasikan dengan memakai idiom kesundaan secara simbolik dan diungkapkan dengan bahasa biasa. Inti dari ajaran martabat tujuh adalah meliputi: pertama, proses turun (ngagulusur/tanazul) menjelaskan tentang proses terjadinya realitas yang plural berawal dari Dzat Yang Satu dengan tahapan hierarki (Ahadiyat, Wahdat, Wahidiyat, Arwah, Mitsal, Ajsam, Insan kamil). Kedua, proses naik (mancat/ taraqi) menjelaskan kesadaran rohani manusia dalam proses untuk menuju dan kembali pada Dzat Yang Satu dengan tahapan hierarki (Islam, Iman, Saleh, Ihsan, Syahadah, Sidiqiyah, Qurbah).

 

2. Bahasa yang digunakan oleh Haji Hasan Mustafa dalam menyampikan ajaran-ajaran tasawufnya lebih banyak pada penggunaan bahasa biasa, yaitu bahasa yang digunakan dalam percakapan sehari-hari dengan ditambah idiom-idiom budaya setempat (budaya Sunda). Ungkapan-ungkapan bahasa tasawufnya dalam tinjauan speech acts dan language game dapat dimasukan pada ungkapan performatif, karena tidak menjelaskan hal-hal yang faktual dan tidak mengandung nilai benar-salah serta mempunyai tata aturan permainan bahasa tersendiri yang merujuk sebagai agamawan, birokrat (pejabat Hoofd-Penghulu), Budayawan.

Ungkapan bahasa tasawuf Haji Hasan Mustafa, secara keseluruhan berjenis ungkapan performatif, karena empat ciri  ada dalam ungkapan performatif telah terpenuhi, yaitu pertama, diucapkan oleh orang pertama (Haji Hasan Mustafa) . kedua, orang yang mengucapkannya hadir dalam situasi tertentu (ia seorang hakim agama dan ahli fatwa, terntunya mengungkapkannya di persidangan atau dalam kajian keagamaan). Ketiga, bersifat indikatif (mengandung pernyatan tertentu). Keempat, dia telah melaksanakannya dengan sempurna.

Dengan memperhatikan ciri dan syarat yang ada pada ungkapan performatif, maka ungkapan-ungkapan bahasa tasawuf Haji Hasan Mustafa telah dipandang layak (happy) dan tidak sia-sia (void). Sedangkan analisis terhadap ungkapan bahasa tasawuf Haji Hasan Mustafa dengan memperhatikan ciri dan syarat yang ada pada ungkapan-ungkapan sufistik dalam tata permainan bahasa merujuk sebagai seorang sufi dengan menggunakan personifikasi seorang agamawan, birokrat dan budayawan, maka bahasa tasawuf Haji Hasan Mustafa  telah dipandang meaningfull (bermakna) dengan tata permainan yang khas dari Haji Hasan Mustafa.

Dengan demikian, dalam analisis tindakan bahasa (speech acts) dan permainan bahasa (language game), ungkapan-ungkapan bahasa tasawuf Haji Hasan Mustafa   yang tertera pada naskah Gelaran Sasaka Dikaislaman, Martabat Tujuh dan Patakonan jeung Jawaban, menunjukkan adanya kesesuaian dengan tindakan lokusi, tindakan ilokusi, tindakan perlokusi dan telah memenuhi aturan main tata permainan bahasa karena menunjukan adanya kemiripan keluarga (family resembly) dan aturan main sebagai seorang agamawan, birokrat (pejabat Hoofd-penguhulu), budayawan.

3.  Corak tasawuf yang diajarkan oleh Haji Hasan Mustafa, menurut hemat penulis adalah  “Tasawuf Harmoni ”, yaitu corak tasawuf yang berusaha menyeimbangkan antara corak tasawuf falsafi dengan konsep  wahdatul wujud atau wujudiah dengan corak  tasawuf amali/akhlaki yang berorientasi kepada tindakan praktis sebagai bagian dari ajarannya yang bersifat amali. Corak Tasawuf harmoni ditandai dengan adanya keseimbangan antara; konsep ngagulusur/tanajul dengan mancat/taraqi, pemahaman filsafati dengan amaliyah akhlaki, pemakaian istilah Arabi dengan Sundawi, pemahaman tentang realitas sifat Tuhan Jalaliyah dengan Jamaliyah, penekanan amaliyah dohir dengan batin, pensikapan antara hal-hal yang bersifat pikiran dengan perasaan, dan penggunaan terminologi khas sufistik dengan terminologi umum biasa. (harry gibrant)

 

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet