Joy Terpidana Vonis MA 1 Tahun Bebas Berkeliaran

  • 375 views
  • 0 comments

BANDUNG - Joy Hesa,  terpidana hasil vonis Mahkamah Agung (MA) 1 tahun penjara, perkara penipuan Rp. 1,2 miliar, diduga berkeliaran bebas tanpa menjalani hukuman. Ia terlihat tengah menikmati hidangan  di sebuah kafe di taman Citarum Bandung pada Senin, (08/01/18). Padahal seharusnya ia menjalani dsan menjadi tahanan Kejaksaan Negeri Bandung, sejak dikeluarkan surat putusan Mahkamah Agung sekitar beberapa pekan lalu.

Informasi yang diperoleh ekpos.com, Rabu (10/01/18) menyebutkan,  pasca vonis MA, pihak Kejaksaan Negeri Bandung selaku eksekutor negara, telah melayangkan surat panggilan ke-2 kepada terpidana sekitar pekan lalu guna menjalankan putusan MA.  Namun bersamaan dalam proses upaya PK (peninjauan kembali), pihak terpidana melayangkan surat sakit dari dokter,  sehingga pihak kejaksaan belum bisa melaksanakan putusan MA.

Sejumlah wartawan yang berusaha mengkonfirmasi terkait foto yang diduga Joy Hesa kepada  pihak Kejaksaan Negeri Bandung, belum berhasil mendapat jawaban. 

Kasi Penkum Kejati Jabar,  Raymond Ali kepada wartawan,  Rabu (10/01/18) mengatakan,  pihaknya dalam hal ini Kejari Bandung akan segera melayangkan surat panggilan ke-3 kepada pihak Joy Hesa. "Kalau surat panggilan ke-3 tetap tidak ditanggapi juga,  maka terpaksa pihak kejaksaan akan melakukan upaya penjemputan paksa terhadap terdakwa," ujarnya.

Pihaknya kata Raymond,  juga berterimakasih kepada masyarakat yang memberikan informasi positif kepada kejaksaan dalam menjalankan tugasnya.” Kalau hal ini benar,  akan menjadi masukan yang baik bagi kejaksaan” ungkapnya. 

Ketua Kajian Analisis Monitoring Community,  Aan Kandar Karnawan saat dihubungi wartawan sangat menyayangkan dan merasa prihatin jika hal ini benar terjadi. Padaghal menurutnya seharusnya pihak kejaksaan menjalankan tugasnya secara on the track.

“Kasihan jajaran pimpinan Kejagung terus mengkampanyekan profesional, sedang di jajaran kejaksaan daerah tidak sejalan dan masih saja ada oknum kejaksaan 'bermain' pada perkara yang sudah diputus pengadilan. Apalagi ini putusan MA, " ungkapnya. 

Dia mengajurkan, jika masyarakat menemukan perbuatan seperti hal tersebut, masyarakat berhak melaporkannya ke pihak Jamwas Kejagung.  "Selain kepada Jamwas Kejagung, masyarakat bisa langsung melaporkan ke Komisi Pengawas Kejaksaan. Hal  ini sangat merusak citra kejaksaan.Karena sudah  bukan zamannya lagi oknum kejaksaan bermain pada perkara yang sudah inkracht. Bagaimana pun perbuatan ini lambat laun pasti akan diketahui juga," tukasnya. 

Kasus yang menjerat Joy Hesa bermula saat warga Setraduta Bandung itu datang menemui Wikanta Wirja untuk minta bantuan pelunasan hutang Joy kepada PT BPR Gunadhana Mitrasembada sebesar Rp1.290.720.000. Atas bujukan Joy, pada tanggal 8 Agustus 2007 Wikanta menyerahkan uang kepada Joy dengan cara melakukan pelunasan hutang Joy kepada PT. BPR Gunadhana Mitrasembada. 

Selanjutnya Joy menyerahkan dua buku SHGB No. 104 dan 105 beserta surat permohonan roya maupun sertifikat hak tanggungan asli peringkat kesatu kepada Wikanta. Namun pada tanggal 30 Agustus 2007 Joy meminjam kembali sertifikat tersebut, dengan alasan untuk digunakan proses pinjaman ke Bank BRI dan uangnya untuk membayar hutang kepada Wikanta.

Sekitar bulan Oktober 2007, terdakwa mendapat pinjaman dari Bank BRI sebesar Rp 1,7 miliar. Namun uang itu digunakan untuk kepentingan sendiri dan tidak dibayarkan kepada Wikanta sebagaimana yang dijanjikan. Atas perbuatan terdakwa, Wikanta  mengalami kerugian kurang lebih sebesar Rp. 1.290.720.000 dan terdakwa didakwa pasal 378 KUHP jo pasal 64 ayat 1 KUHP.

Dalam sidang Tahap 1, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bandung membebaskan terdakwa, namun jaksa melakukan upaya kasasi, dan hakim MA akhirnya memvonis Joy 1 tahun penjara. Merasa tidak puas dengan putusan hakim MA, ia pun kemudian mengajukan peninjauan kembali (PK). BG

 

 

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet