Islam Moderat di Jawa Barat

  • 227 views
  • 0 comments

        Fakta sosiologis dan antropologis menggambarkan kepada kita bahwa Indonesia merupakan negara majemuk, dimana tumbuh kembangnya beragam etnis, budaya dan juga beragam agama.  Tentu saja Indonesia bukanlah milik sebuah etnis tertentu, bukan juga milik agama tertentu, Indonesia milik semua warga Indonesia yang terikat dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika. Memiliki cita-cita  luhur yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara kesatuan yang berdaulat, mandiri, dan terhindar dari konflik horizontal warga negaranya. Oleh karena itu, dibutuhkan pemahaman yang komprehensif dan mendalam tentang bagaimana membangun dan mewujudkan suasana dinamis dan harmonis dalam kehidupan masyarakat.

Pada  konteks itu pula, keberadaan Program Studi Agama-Agama di Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati  (UIN SGD) Bandung menjadi penting. Studi Agama-Agama adalah nomenklatur baru dari Program Studi Perbandingan Agama. Tentu saja, bukan dalam rangka membanding-bandingkan, tetapi dalam rangka mengukuhkan aqidah, sehingga keyakinan keberagamaan  semakin kuat dan memahami wawasan luasa tentang agama yang ada dan berkembang di Indonesia bahkan dunia. Itu lah sebabnya wajar kalau muncul penilaian bahwa Islam moderat di Jawa Barat basisnya ada di Fakultas Ushuluddin UIN Bandung.

Pemahaman

Dalam konteks kehidupan keagamaan di Indonesia, memang pemahaman keagamaan yang muncul di tengah-tengah masyarakat Indonesia sangat beragam, hal ini terkait dengan budaya masyarakat Indonesia yang menopangnya. Islam di Indonesia hadir dengan wajah lokal masyarakat Indonesia, sehingga menjadi khas Islam Indonesia atau populernya disebut Islam nusantara yang mengembangkan nilai rahmat bagi seluruh alam.

Quraish Shihab dalam satu kata pengantar sebuah buku, mengatakan bahwa berdasarkan analisis M.B. Hooker, Robert Hefner, John L. Esposito dan William Liddle, keberadaan Islam di Nusantara bercorak  sangat spesifik dimana ekspresinya secara intelektual, kultural, sosial, dan politik bisa jadi dan kenyataannya memang berbeda dengan ekspresi Islam yang berada dibelahan dunia yang lain. Islam Indonesia merupakan perumusan Islam dalam konteks sosio-budaya bangsa yang berbeda dengan pusat-pusat Islam di Timur Tengah.

Hal ini, tentu menjadi isyarat bahwa Islam berkembang sesuai dengan budaya lokal yang menopangnya. Menggambarkan betapa Islam hadir dengan wajah yang penuh kedamaiaan, penuh kesejukan dan inilah yang harus menjadi perhatian bersama umat Islam Indonesia, bagaimana Islam Indonesia menjadi Islam yang betul-betul dapat membawa kesejukan bagi semuanya.

Tentu karakteristik agama dan keberagamaan yang dinyatakan tersebut merujuk pada paham keagamaan Islam moderat, yakni sebuah paham keagamaan yang mendorong terhadap prilaku keagamaan yang toleran, prilaku saling hormat menghormati diantara sesama umat beragama.

Studi Agama-Agama

Kenyataan kehidupan beragama yang beragam di Indonesia, memunculkan suatu pertanyaan  dasar, terkait dengan bagaimana membangun kehidupan yang harmonis di tengah-tengah masyarakat beragama yang beragam tersebut. Tentu, kondisi ini dijawab dengan tepat oleh Mukti Ali, dengan  mendirikan jurusan Perbandingan Agama sebagai salah satu jurusannya pada program Strata-1 dibuka di Institut Agama Islam Negeri Yogyakarta pada tahun 1960. Jurusan Perbandingan Agama didirikan berdasarkan pada realitas sosial masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai etnis, budaya dan agama. Yang dalam sejarah perkembangannya belum sanggup menciptakan hubungan harmonis antar pemeluk agamanya.

Di UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Jurusan Perbandingan Agama adalah salah satu jurusan yang terbilang tua. Jurusan Perbandingan Agama berdiri bersamaan dengan diresmikannya Fakultas Ushuluddin dan Syari`ah di Bandung serta Fakultas Tarbiyah di IAIN Sunan Gunung Djati di Bandung pada tanggal 5 April 1968 dengan keputusan Menteri Agama nomor: 57 tahun 1968, dan pada tahun 2016 jurusan Perbandingan Agama berubah menjadi Studi Agama-Agama berdasarkan peraturan Menteri Agama No 33 tahun 2016.

Sebagaimana diketahui bahwa  Jurusan ini dibentuk salah satunya berdasarkan kondisi realitas sosial masyarakat Indonesia yang majemuk, sehingga dengan kehadiran Jurusan ini diharapkan tercipta pemahaman keagamaan yang baik di kalangan penganut agama yang pada akhirnya akan memunculkan sikap toleran dan terwujudnya kerukunan hidup antar umat beragama.

Prospek lulusan Studi Agama-agama adalah akademisi dalam studi agama-agama, sosiologi agama, pendidikan kerukunan umat beragama; peneliti madya dalam studi agama-agama, sosiologi agama, dan kerukunan umat beragama; aktivis dan mediator sosial keagamaan, kemasyarakatan dan perdamaian di tingkat nasional dan internasional; penyuluh agama, Pusat Kerukunan Umat Beragama (PNS) pada kementrian Agama RI dan konsultan HRD (human resources developmen) pada lembaga pemerintah dan swasta.

Jadi semangat membangun Islam moderat di Indonesia sejalan dengan kehadiran jurusan Studi-Agama-Agama.

Oleh karena itu keberadaan jurusan ini penting untuk memfasilitasi bagaimana masyarakat Indonesia memiliki pemahaman keagamaan yang baik, sehingga akan tercipta suasana harmonis dan nyaman dalam kehidupan masyarakat, dan hal ini tentu menjadi penguat bagi keutuhan NKRI.( Deni Miharja adalah Dosen dan Ketua Jurusan Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin, UIN Bandung)

 

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet