Ironis Anak Muda Ngelem Saat Kejari Gencar Berantas Narkoba

  • 87 views
  • 0 comments

SULTENG---Ironis, ditengah gencarnya Kejaksaan Negeri (Kejari) Palu, Provinsi Sulawesi Tengah, pada 2017 hingga memasuki 2018 terus memberantas narkoba, sejumlah anak usia muda di Palu kini justru memanfaatkan lem Fox sebagai media untuk membuatnya flay. Tanpa mereka sadari dampak dari menghirup lem tersebut bisa merusak jaringan otak dan mengakibatkan kematian.

“Sensasi menghirup lem Fox bisa membuat penggunanya merasa melayang-layang (flay) dan rasa tenang sesaat. Sama seperti narkoba pada umumnya, efek ngelem akan menyerang susunan saraf di otak sehingga bisa menyebabkan kecanduan. Dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan otak sementara, dalam jangka pendek risikonya adalah kematian mendadak (sudden sniffing death),” jelas Konsultan Kesehatan yang sekaligus Wakil Direktur Medik dan Keperawatan RSUD Ulin Banjarmasin dr. Mohamad Isa, Sp.P. belum lama ini.

Hal serupa diungkapkan Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejari Palu Surianto, SH, menurutnya,  perilaku unik yang kini menjadi kerisauan para orang tua yakni, anak usia muda yang menghirup lem Fox. Padahal lem Fox itu, sebagaimana  fungsinya sebagai alat perekat atau lem. Namun yang sangat ironis, fungsinya kini disalahgunakan dan akhirnya membahayakan dan dapat menyebabkan fly saat menghirupnya.

“Untuk melarang penjualannya secara bebas belum bisa. Karena secara fungsinya merupakan barang jualan legal, hanya saja disalahgunakan. Apalagi, lem Fox ini belum masuk pada lampiran Kementerian Kesehatan tentang narkotika,” tandas Surianto.

Padahal menurutnya, pihaknya kini tengah gencar-gencarnya memberantas narkoba. Bahkan, untuk membuat efek jera bagi para bandar dan pemakai narkoba, pihak kejari akan bertindak tegas. Hal ini diharapkan sebagai pembelajaran untuk kita semua bahwa hukum itu masih berjalan.

“Sejauh ini para bandar narkoba di Kota Palu pada 2017 sudah dituntut setinggi-tingginya,” tuturnya.

Zat terlarang yang mempunyai nama lain napza itu, merupakan singkatan dari narkotika, psikotropika dan zat adiktif. Sehingga narkoba ataupun napza, mengacu pada kelompok senyawa yang umumnya memiliki risiko kecanduan bagi penggunanya, bahkan bisa mengakibatkan kematian. 

Pekan kemarin, kami melaksanakan pemusnahan sejumlah barang bukti yang telah berkekuatan hukum tetap (inkracht van gewijsde) di halaman Kantor Kejaksaan Negeri Palu,” jelasnya.

Barang bukti yang dimusnahkan tersebut berasal dari 125 perkara tindak pidana narkotika dan psikotropika, dan dua perkara tindak pidana yang terkait dengan UU Kesehatan. “Total barang bukti yang dimusnahkan yakni, sabu 8.332,24 gram, ganja 13,18 gram, ekstasi 193 butir, THD 432 butir dan kosmetik enam dus, serta obat-obatan sembilan butir,” beber Surianto.  Rahmad Nur/Ganefa

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet