Idi Pelaku Sejarah Bandung Lautan Api Sedih, Banyak Pejabat Korupsi

  • 37 views
  • 0 comments

BANDUNG--- Idi Djuhana (90) saksi hidup dan pelaku sejarah yang ikut membumi hanguskan Kota Bandung, merasa sedih ketika hasil perjuagannya berdarah-darah, kini mendengar kabar banyak pejabat yang korupsi.  Meskipun masih ada kebahagiaan yang dirasakannya karena kini Kota Bandung telah tumbuh menjadi kota yang maju.

“Kami sudah susah-susah berjuang, sampai titik darah penghabisan. Banyak yang mati, yang berdarah-darah. Tapi sekarang itu korupsi. Sedih,” ucapnya saat ditemui Humas Setda Kota Bandung Selasa (20/3/2018).

Ia tak menyangka, kalau kini namanya tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia selaku pejuang pembela tanah air. Namun di balik itu, ia masih menaruh harapan pada generasi penerus untuk bisa melanjutkan perjuangannya. Idi berpesan kepada generasi muda untuk terus menjaga Pancasila.

“Jaga Pancasila. Karena kita seperti sekarang itu karena Pancasila, dan Undang Undang Dasar 1945. Itu, saya titip Pancasila,” tegasnya berulang-ulang.

Ia pun sempet bercerita tentang riwayat perjuangannya saat malam pembumihangusan Bandung pada 23 Maret 1946, Ia yang saat baru berusia 19 tahun, ditugaskan menjaga keamanan beserta keenam rekannya.  Ia mengemban tugas menjadi pasukan Dekking komandan diposkan di Stasiun Bandung.

Idi menerawang, mengingat detik-detik mendebarkan  saat harus turut membakar kota kelahirannya malam itu. Meski usianya kini sudah menjelang satu abad, namun ingatanya masih sangat tajam. Ia mampu memaparkan apa yang dijalaninya saat itu dengan cukup detail.

Menurutnya, malam itu suasana di dalam stasiun sangat sepi. Ia dan keenam rekanya mendapat tugas untuk berjaga dengan berbekal dua buah granat dan empat bom Molotov, tanpa senapan atau senjata lainnya. Ia berjaga jika sewaktu-waktu ada tentara Belanda datang mendekat.

“Malam itu, ada ultimatum dari Belanda, katanya tentara yang di utara harus pindah ke selatan. Batasnya itu rel kereta api yang melintas dari timur ke barat,” kenangnya.

Di tengah kebingungannya, menjelang tengah malam ia dan rekanya mendengar suara dentuman yang sangat dahsyat. Disusul kemudian langit bagian utara tampak memerah.

“Kami waktu itu bingung harus berbuat apa. Tidak ada alat komunikasi, tidak ada komando. Akhirnya kami memutuskan untuk keluar dari stasiun dan memastikan ada apa,” terang Idi.

Mreka pun akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah  berjalan mengendap-endap ke arah bangunan yang kini dinamakan Gedung Pakuan (rumah dinas Gubernur Jawa Barat). Ia menyusuri jalan hingga ke Jalan Cadas Pangeran atau yag kini dinamakan Jalan Oto Iskandar Dinata.

Semula, ia mengaku sempat takut dan cemas. Terlebih lagi saat mengetahui bahwa granat yang dibawanya ternyata tidak berfungsi. Walaupun pemantiknya sudah dicabut kemudian dia lempar, tidak terjadi apa-apa. Hingga akhirnya ia dan rekannya memutruskan untuk kembali meneruskan perjalanan sampai Jalan Dalem Kaum dan Kepatihan.

“Kami coba nyalakan granat. Kami nyalakan terus kami lempar, tapi sama sekali tidak terjadi apa-apa. Karena yang ada hanya itu, ya kami terus saja hingga sampai di Jalan Dalem Kaum dan Kepatihan. Di sana saya ketemu dengan pejuang lain yang berteriak ‘bakar… bakar…!” seru Idi mengingat kembali peristiwa itu.

Adanya teriakan dari pejuang lain, pria yang lahir 7 Maret 1928 itu lantas  melemparkan bom Molotov ke wilayah pertokoan di sana. Meskipun ia sempat ragu karena itu milik warga Bandung, tapi ia tetap melemparkan bom itu sesuai dengan perintah. Setelah membakar di beberapa titik, ia lalu bergabung dengan pasukan yang lain di Tegalega. Di sana, ia berpisah dengan pasukannya untuk membantu para pengungsi di berbagai pos.

“Saya sempat berpisah dengan pasukan karena membantu bagian kesehatan. Bantu yang dirawat untuk mengankut yang luka-luka untuk dirawat,” ujarnya.

Ia pun menuturkan, selain peristiwa Bandung Lautan Api, Idi juga ditugaskan dalam misi-misi lainnya, seperti pemberantasan PKI, dan DI/TII. Ia sempat dibawa ke Blora untuk ikut berjuang bersama pasukan di Jawa Timur.

“Saat kami mendapat panggilan untuk kembali ke satuan masing-masing, kami pulang ke Bandung dengan berjalan kaki. Hanya dibekali beras satu liter dan garam satu gandu,” tutur Idi dengan semangat yang masih menggelora.

Perjalanan yang ditempuhnya kala itu menurutnya, berlangsung selama 41 hari. Namun tak ada sedikit pun rasa lelah maupun putus asa. Diakuinya, perasaan yang ada saat itu adalah ingin segera bertemu dengan keluarganya.

“Saya nggak ketemu keluarga kurang lebih sekitar lima tahun. Setelah saya bertugas, saya menengok orang tua yang harus pindah ke daerah Rancaekek,” katanya.

Kini, Idi yang berusia 91 tahun tinggal bersama istrinya di rumah sederhana di Gang Margalaksana No. 30/25 Kelurahan Tamansari, Kec. Bandung Wetan Kota Bandung. Sementara itu, ketujuh anaknya telah berkeluarga dan tinggal terpisah dengannya.***

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet