Ide Kreatif, Siswa Buat Perpustakaan dan Mengelolanya Sendiri

  • 2396 views
  • 0 comments

Ekpos.com, Makassar - Ada yang luar biasa dilakukan SDN Kompleks IKIP I Makassar agar siswa-siswinya menjadi semakin cinta buku. Alphian Sahruddin guru kelas IVB di SD tersebut mendorong anak-anak didiknya secara berkelompok membuat perpustakaan mini sendiri.

Perpustakaan mini tersebut berupa rak-rak buku yang dibuat dari berbagai bahan bekas seperti kayu, kertas karton, gabus dan lain-lain. Setelah jadi, kelompok siswa yang membuatnya itu sendiri yang juga mengelolanya, mulai dari pengadaan, peminjaman dan pengembalian buku oleh siswa yang lain.

“Dengan membuat perpustakaan mini sendiri dan mengelola buku-bukunya sendiri, bukan saja mereka menjadi lebih senang membaca buku.  Mereka juga menjadi  penuh tanggung jawab  menyediakan buku  yang bisa menarik siswa lain  membaca buku dari koleksi perpustakaan yang mereka bangun sendiri,” ujar Alphian baru-baru ini. 

Rak-rak buku mini tersebut memiliki  tinggi 1 meter dan lebar 60 cm. Buku koleksi siswa yang dibawa dari rumah dan diletakkan di rak tersebut  juga menarik-menarik ; buku cerita, majalah anak-anak, buku pelajaran bergambar dan sebagainya.

Pembuatan dan pengelolaan perpustakaan mini oleh siswa ini merupakan ide kreatif Alphian dalam pembelajaran IPS tentang pengelolaan sampah. Tidak hanya berhenti mengajarkan tentang pengelolaan sampah, dia juga secara kontekstual mengaitkan langsung dengan ide praktis peningkatan minat baca.

“Banyak guru yang kekurangan ide pembelajaran. Ide Pak Alphian ini luar biasa, menghubungkan langsung pembelajaran IPS pengelolaan sampah dengan peningkatan minat baca di kelas. Ini sesuatu yang sangat inovatif,” ujar Jamaruddin, Koordinator Provinsi USAID PRIORITAS Sulawesi Selatan.

 

Karena terkait dengan pembelajaran, anak-anak juga ditugaskan membuat prosedur teks terkait bahan dan cara membuat masing-masing rak buku perpustakaan mininya. Salah satu kelompok dari empat kelompok siswa yang dibentuk di kelas IV B menuliskan bahannya sebagai berikut; tripleks bekas, paku, kertas koran, isolasi hitam, lem, roda 4 buah, bahan untuk tempat pensil, bambu, kertas warna warni, balok kecil, lidi, gabus putih bekas, dan dus TV.

 

Sedangkan cara pembuatannya ditulisnya sebagai berikut : tripleks dipotong sesuai ukuran rak yang diinginkan; disusun tiga bagian, kemudian dipaku sisi dan ujungnya agar kuat, setelah terbentuk raknya lalu dibungkus dengan kertas koran bekas, sisinya di beri isolasi hitam, agar tidak kelihatan; setelah rak buku selesai, bawahnya di beri roda 4 buah, agar mudah dipindah-pindahkan; untuk mempercantik rak bukunya, dibuatkan tempat pensil dari bambu. 

 

Bambu tersebut dipotong jadi 3 bagian, panjangnya berbeda beda, setelah itu direkatkan pada sebuah balok kecil. Agar menarik, bambu kemudian ditempeli dengan kertas warna warni, di tambahkan sedikit hiasan bunga dari lidi di beri lem, kemudian di tempel dengan cabikan gabus bekas putih.

 

“Bahan-bahan yang dipakai adalah bahan bekas murah yang biasa jadi sampah. Aktivitas ini telah menumbuhkan ide kreatif anak-anak mendaur ulang bahan bekas menjadi sesuatu yang bermanfaat,” ujar Alphian.

 

Karena diberi roda, perpustakaan mini tersebut bisa didorong dipindah-dipindahkan oleh siswa. Saat istirahat perpustakaan mini tersebut ditaruh diluar kelas dan anak-anak memilih buku dan membaca mengitarinya. Karena satu kelas dibagi empat kelompok, terdapat empat perpustakaan mini yang masing-masing juga memiliki sekretaris yang mencatat buku-buku yang dipinjam dan dikembalikan. Kelompok juga bertanggung jawab mengganti buku-buku yang sudah sering dibaca.

 

Alhasil, kehadiran perpustakaan mini ini menambah minat siswa untuk membaca. “Saya semakin senang membaca buku, karena buku-bukunya dan rak bukunya juga menarik,” kata Syafila Firda Nafisa, salah satu siswa kelas IV B yang satu minggu rutin menghabiskan tiga buku untuk dibaca.

Siswa dan orang tua siswa menjadi lebih sering menyumbangkan atau meminjamkan buku untuk dipajang di perpustakaan mini tersebut. Buku yang dibawa oleh siswa dari rumah rupanya lebih pas dan lebih mengena dengan minat baca mereka.

“Yang terjadi adalah biasanya para siswa saling menginformasikan antar sesama teman tentang buku yang mereka pajang di perpustakaan mini atau sudut baca mereka, sehingga siswa yang lain tertarik mencari buku tersebut. Terjadi saling meminjam buku dan perlombaaan alami untuk memperbanyak buku dan membuat koleksinya lebih menarik,” ujar Alphian.

Ide pembelajaran ini telah menarik guru kelas lain untuk mengadopsinya. Kepala sekolah juga amat mendukung,  apalagi ide kreatif pembelajaran ini sangat sejalan dengan dengan program pemerintah kota Makassar “Makassar Ta Tidak Rantasa” yang kemudian diadopsi di SDN Kompleks IKIP menjadi Aku dan Sekolahku Tidak Rantasa serta LISA (Lihat Sampah Ambil). (Ajieb/BD)


Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet