Dana Desa Dipakai Study Banding Perangkat Desa Banjaran, Majalengka

  • 0 comments

Majalengka, Ekpos.com---Desa Banjaran, Kecamatan Banjaran, Kabupaten Majalengka menggunakan anggaran 35 juta dana desa untuk kegiatan studi banding atau pelesir ke Yogyakarta. Penggunaan dana itu untuk kepentingan pelesiran sangat melukai masyarakat, sebab dana itu memang untuk kepentingan warga. Akibatnya hal itu banyak menimbulkan masalah dan mendapat sorotan publik.

"Pemerintah menganggarakan dana desa adalah untuk kepentingan masyarakat. Termasuk untuk pembangunan fasilitas umum yang pemanfaatannya bagi kepentingan masyarakat.  Apakah studi banding tersebut mengatasnamakan BUMDes untuk kepentingan masyarakat?

Ia menambahkan,dengan kemasan studi banding bank sampah. Padahal Bank sampah sudah berjalan dengan swadaya masyarakat.

“Studi banding tersebut dipergunakan oleh perangkat desa bersama istri termasuk anggota BUMDes dengan keluarganya. Sementara dari masyarakat tidak ada satupun yang diajak,”kata salah seorang narasumber yang namanya tidak disebutkan.

Dia mengatakan, seharusnya bank sampah yang sudah berjalan dengan swadaya masyarakat tanpa ada sumbangan dari anggaran dana desa itu di berdayakan.

“Di desa kami BUMDes belum ada bidang bank sampah tapi ada kegiatan studi banding ke Yogyakarta. Apalagi yang ikut bukan orang yang bergerak dibank sampah tapi keluarga perangkat desa,”sindirnya.

Eman Ketua BUMDes Desa Banjaran membenarkan, bahwa anggaran Rp 35 juta dari dana desa untuk studi banding ke Yogyakarta. Namun bukan Bank sampah yang sudah berjalan yang di ajak, tapi pengurus bank sampah yang akan dibentuk yang ikut studi banding.

“Karena Bank yang sudah terbentuk dengan swadaya tidak masuk keanggotaan BUMDes di desa banjaran,”kilahnya.

Sementara Kepala Desa Banjaran, E Suprai, saat akan minta konfirmasi tentang penggunaan dana desa untuk kegiatan tersebut tidak bisa dihubungi.

Sementara menurut Eti Hermawati S.Pd. Camat Banjaran mengatakan, saya sempet denger bahwa perangkat desa berangkat ke Yogyakarta dengan menggunakan Dana Desa.

“Namun sampai saat ini kepala desa sulit untuk dihubungi. Bahkan jarang ada di kantor desa, serta di hubungi melalui telepon selulernya jarang diangkat,”jelas camat.

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet