Brigjen Pol Widiyanto Poesoko: Polisi Harus Lebih Manusiawi, Profesional dan Bersinergi Dengan Masyarakat

  • 2490 views
  • 0 comments

Banyumas, Ekpos.com

Brigjen Pol Drs Widiyanto Poesoko SH MSi merasa terharu saat menerima penghargaan IPWP Award 2016 dari Ketua Harian Ikatan Paseduluran Wartawan Pangiyongan (IPWP) Banyumas, Rahayu Amd awal Mei 2016 di Purwokerto setelah sebelumnya penghargaan tersebut diberikan kepada yang mewakili Kabul Yulian Tris bersama dengan 16 tokoh daerah Banyumas yang berprestasi, akhir April 2016 di RM Kabayan Purwokerto.

“Yang jelas saya mengucapkan terima kasih atas penghargaan dari IPWP Banyumas dan benar-benar terkejut, tidak mengira kalau perjalanan karier dan pengabdian saya sebagai anggota Polri mendapat perhatian dan penilaian positif oleh para wartawan di Banyumas,” ujar Widiyanto Poesoko yang pernah bertugas sebagai Kapolres Banjarnegara, Temanggung dan Dir Intelkam Polda Maluku Utara.

Kepada wartawan Brigjend Widiyanto didampingi istri dan keluarga yang tengah mengisi liburan di Banyumas itu mengungkapkan, dimanapun berada beliau ingin selalu menjalin komunikasi dengan teman-teman wartawan dan personel anggota polisi yang pernah dikenal jangan sampai putus hubungan.

Menurut Brigjen Pol Widiyanto Poesoko yang sekarang menduduki posisi di eselon dua sebagai Asisten Deputy Politik Kementrian Polhukam, sebetulnya dari dulu polisi selain menjadi mitra dan pelayan juga menjadi pengayom masyarakat.

“Tugas Polri sekarang harus lebih manusiawi dan menjadi pedoman hidup bagi kapolres yang baru, tidak boleh kalau ada anggota polisi yang arogan, asal tangkap, belum diperiksa sudah ditahan ini tidak cocok,” ujar Brigjen Widiyanto, seraya menambahkan intinya polisi harus lebih profesional, lebih bersinergi dengan masyarakat, tidak  lagi anarkis apalagi melakukan kekerasan.

Ditegaskan oleh Brigjen Widiyanto yang bertugas sebagai Direktur Penanganan konflik  di Kemendagri  4 tahun dan sekarang bertugas di kemenpolhukam yang mengkordinir semua kementrian yang memiliki organisasi kemasyarakatan.

“Disitu ada nama index demokrasi dengan ormas dan tiap-tiap propinsi dinilai program-programnya oleh propam yang melakukan aktifitas keliling, sedangkan polkam memberikan penghargaan bagi yang terbaik dan penilaian bagi yang kurang demokratis,” jelasnya.

Tapi menurutnya, hampir semua ormas di kota-kota besar dinilai masih rawan karena kurang demokratis.

Ditambahkan, dulu menindak tegas terhadap aparat yang arogan yang kebanyakan di kota-kota besar itu petugas intelpam, tapi sekarang propam yang lebih tegas menindak aparat yang menyalahi aturan, menyalahi profesi dan menyalahi etika.

“Terhadap mereka bisa saja dihukum setelah diproses kesalahannya dan setelah disidang karena terbukti melanggar,” ujar Brigjen Widiyanto yang juga pencetus ide operasi jaring laba-laba pertama di dunia untuk tugas inteljen di Bosnia, Nigeria, Sinegal dan Kanada.

Menurutnya, ide/kegiatan operasi jaring laba-laba yang pertama kali ditemukan pada tahun 1994 dan sampai sekarang masih dilaksanakan oleh pasukan PBB Garuda 14A di Bosnia, sedangkan di Polri sekarang menjadi Babin Kamtibmas dan Babinsa di TNI dimana satu orang personel babinkamtibmas/babinsa bertugas untuk memantau sebuah desa.

“Intinya jangan sampai ada anggota jaring laba-laba yang tidak tahu apa-apa, ibaratnya harus tahu ada ranting jatuh di desa itu,” jelasnya, seraya menambahkan artinya harus selalu siap buka mata dan buka telinga, sehingga semua kejadian di masyarakat tidak boleh terlewatkan.

Lebih jauh dijelaskan oleh Brigjen Pol Widiyanto yang juga pembina motor club nasional di Indonesia, kegiatan yang dilakukan Babinkamtibmas identik dengan village brighting program (VBP) atau sambang desa yang telah dipraktekan dan diakui oleh PBB pada tahun 1994.

“Seorang anggota jaring laba-laba harus tahu dan kenal suara masyarakat, jadi kenali dulu tokoh-tokohnya sebelum mengenal yang lainnya. Sebagai seorang asisten deputy politik dalam kementrian polhukam yang mengawasi perkembangan politik yang terjadi, termasuk kalu ada kegaitan pilkada serentak, maka beliau termasuk orang yang super sibuk,” pungkasnya. (Widoyo Satmoko) Teks foto Brigjen Pol Widiyanto Poesoko didampingi istri dan keluarga menerima Piagam Penghargaan IPWP Award 2016 (Foto: TW/Widoyo). 

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet