Alquran-Budaya Sunda Lahirkan Ekspresi Keagamaan Moderat

  • 0 comments

Bandung, Ekpos.com

Al-Quran sebagai sumber inspirasi dan moralitas  bisa didekati  berbagai prespektif dalam menafsirkannya, Salah satu nya dengan pendekatan budaya Sunda agar ekspresi keagamaan lebih moderat. Hal tersebut terungkap dalam  Bedah Buku karya Dr.Jajang A.Rohmana tentang Terjemahan Puitis Alquran ( Danding dan Pupujian Alquran di Jawa Barat),yang di gelar Program Studi  Ilmu Alquran dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin, UIN Bandung, di Gedung Kopertais, Lt.4 Jl.AH.Nasution No.105, Selasa, (5/11/2019).

Acara  dibuka Dekan Ushuluddin Dr.Wahyudin Darmalaksana, sebagai pembicara Jajang A.Rohmana, dengan moderator Dr.Ecep Ismail (Ketua Prodi IAT), hadir pula Warek I.Prof.Dr.Rosihon Anwar (Guru Besar Ilmu Tafsir), Wadek III Dr.Muhlas, Dr.Tedi Muhtadi, MA (Fakultas Sastra UNPAD),dan para mahasiswa. Dekan Wahyudin Mengapresiasi kegiatan tersebut, semoga menjadi inspirasi dan motivasi ketika Al-Quran dikaji dengan budaya Sunda  bisa memunculkan wajah Islam lebih  santun dan toleran.

Ketua Prodi Ecep Ismail berharap semua civitas akademika Ushuluddin untuk mengerahkan daya upaya untuk  mengekspresikan nilai nilai Al-quran dalam kehidupan sehari hari sesuai kamampuan dan kapasitas masing masing “  Mari nilai nilai quran kita wujudkan dalam semua aktivitas  sesuai dengan kemampuan, kalau bisa terjemahkan  atau tafsirkan dengan  sastra maupun non sastra.”  Pinta Ecep.

Jajang  A.Rohman mengungkapkan kajian kajian Alqur’an perlu  didekati dengan kekayaan  budaya lokal agar lebih epektif dalam merelisasikan nilai nilai yang terkandung di dalam nya. Budaya Sunda bisa menjadi media epektif untuk memperkaya ekspresi keagamaan di tengah pengaruh dari luar.” Dulu Orang tua kita bisa lebih moderat, ramah dan santun  karena bisa “mengadumaniskan” ajaran qur’an dengan kekayaan budaya sendiri, “ Ungkap Jajang.

Ia berharap dengan  bedah buku menjadi ikhtiar awal untuk generasi muda,khususnya mahasiswa IAT atau sastra sunda untuk kembali melihat dan menggaungkan kembali  pesan pesan keagamaan melalui budaya lokal di era revolusi industri 4.0 ” kita tak usah malu menggunakan budaya sendiri, baik dalam terjemahan alquran, tafsir quran dan ekspresi keagamaan,” kata nya.(hr)

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet