Rd.Roro Sri Rezeki Waluyajati Raih Gelar Doktor

  • 262 views
  • 0 comments

Bandung,Ekpos.com

Motivasi tinggi, kerja keras, punya integritas dan sabar selalu berujung dengan kesuksesan, itulah kalimat yang layak dan pantas disematkan kepada Raden Roro Sri Rezeki Waluyajati. Perempuan kelahiran Kota Bandung 19 Juni 1979 ini, telah sukses mengukir dengan tinta emas dalam karir akademisnya dengan meraih gelar Doktor, dengan  IPK  3,72 Yudicium sangat memuaskan dalam sidang terbuka Promosi Doktor yang di gelar di Aula Utama Gd Pasca Sarjana UIN SGD Bandung, Jln. Soekarno-Hatta, Selasa, 9/01/2018.

Wanita jebolan S2 UGM ini, telah berhasil mempertahankan Disertasinya yang berjudul,

TRANSFORMASI AGAMA PADA MASYARAKAT PEDESAAN (Studi Analisis Pada Desa Cihampelas Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat)

Dihadapan Tim Penguji yakni: Prof.Dr.Agus Salim Mansur, M.Pd, Prof. DR. Dadang Kahmad, M.Si., Prof. DR. Asep Saeful Muhtadi,M.Si, Prof.Dr.Afif Muhammad, MA, Prof.Dr.Muhtar Solihin ,M.Ag,  Dr. Deden Efendi,M.Ag, dan Dr. HM.Yusuf Wibisono, M.Ag.

 Wanita yang menjabat wakil ketua Yayasan Mutiara Qolbu Insani ini, sanggup dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan tim penguji. Bahkan dengan lihai dan argumentatif bisa mementahkan, meyakinkan, sekaligus menjelaskan secara detail, semua sanggahan yang di ajukan tim penguji.

Dalam Abstraksi, pemaparan dan kesimpulannya, Rd.Roro mengatakan Tidak sedikit orang yang memprediksi bahwa agama akan mati. Namun kenyataannya agama seperti punya seribu nyawa. Setiap kali terbunuh ia bangkit kembali dalam bentuk yang baru. Disertasi ini bertujuan untuk mengungkapkan berbagai transformasi keagamaan yang terjadi pada masyarakat pedesaan yang sedang mengalami proses perubahan dan transisi dari desa tradisional ke bentuk DesaKota. Penelitian dilakukan di Desa Cihampelas Kecamatan Cihampelas Kabupaten Bandung Barat. Sebuah Desa yang sedang berkembang menjadi daerah penyangga kota Bandung dengan dibukanya akses tol Seroja. Pada masyarakat seperti Desa Cihampelas perubahan social berjalan dengan cepat, agama ditantang untuk bisa bertransformasi agar bisa tetap hidup dan tidak di tinggalkan.

Metode kualitatif di pilih sebagai jenis metode dalam disertasi ini. Dalam menganalisis data peneliti menggunakan pola induktif. Sumber data diperoleh melalui hasil observasi langsung kelapangan dengan model obsevasi partisipatoris, wawancara dilakukan ke berbagai pihak seperti: tokoh agama, tokoh birokrasi dan anggota masyarakat Desa Cihampelas agar diperoleh data yang valid. Hasil penelitian menunjukkan bahwa transformasi keagamaan terjadi karena tipe keagamaan pada masyarakat desa transisi (desakota) telah berubah menjadi lebih individualis dan rasional, walaupun pada dasarnya motif keagamaannya masih tetap sama yaitu menjadikan fungsi agama sebagai  pemberi harapan Religion is hope dan memberi pembebasan Religion as liberation. itulah inti kekuatan agama yang tidak tergantikan oleh institusi manapun. Agama seperti yang ditunjukkan oleh tindakan-tindakan sosial keagamaan di Desa Cihampelas memang bertransformasi. Namun transformasi itu hanya menyangkut bentuk luarnya saja. Esensinya tetap sama, setiap bentuk transformasi agama dimaksudkan agar agama dapat memenuhi tugasnya sebagai pemberi harapan dan membebaskan masyarakat dari belenggu-belenggu kehidupan.

Di Desa Cihampelas peneliti menemukan agama yang bertransformasi dalam berbagai bentuk seperti fenomena Sholawat Konser, Qurban di rumah dan jagal, Kharisma Ajengan,Pesantren Darul Falah, Militansi Jamaah PERSIS, Amal Usaha Muhammadiyah, Masjid Muhajirin dan RA Mutiara Qolbu. Tetapi semua itu menunjukkan satu gejala yang sama. Semuanya menjawab harapan masyarakat terhadap fungsi agama. Berbagai bentuk transformasi agama yang terjadi di Desa Cihampelas dapat dikelompokkan menjadi. Pertama, Bentuk transformasi Ritual yang berfungsi menjawab harapan-harapan masyarakat sebagai Seorang Individu Kedua, Bentuk transformasi Sosial Keagamaan yang berfungsi menjawab harapan-harapan masyarakat sebagai sebuah komuntas. Ketiga, Bentuk transformasi sikap keagamaan yang berkaitan dengan harapan masyarakat atas fungsi agama yang lebih Pragmatis sebagai factor pemersatu di masyarakat.

Selanjutnya  dengan meminjam teori Karl Marx, August Comte, Emil Durkheim, A.E. Crawley  dan penelitian kualitatif dengan metode deskriptif anaisis, Rd.Roro  berupaya mengelaborasi gagasan-gagasan besar itu, dalam bentuk penelitian lapangan. Untuk mencari tahu secara konkret, bagaimana sesungguhnya agama bertransformasi ditengah gempuran zaman moderen untuk mempertahankan eksistensinya. Untuk kepentingan itu Desa Cihampelas Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat dipilih sebagai lokasi penelitian. Desa itu termasuk wilayah yang sedang berubah dengan cepat, karena didesain untuk menjadi kawasan perumahan, penyangga kawasan industri Cimareme yang ada di Kabupaten Bandung Barat, juga penyangga Kota Bandung ibukota provinsi Jawa Barat. Dengan dibukanya akses tol Seroja, banyak para penglaju yang bekerja di Kota Bandung memilih tinggal di perumahan-perumahan baru di desa Cihampelas, karena jarak tempuhnya ke Kota Bandung hanya kurang lebih 20 km saja.

Menurut Dosen UIN SGD Bandung ini, Desa semacam Cihampelas adalah lokasi yang paling cocok untuk penelitian ini. McGee menyebut desa semacam ini dengan istilah desakota.[1] Ini karena secara sosiologis, perubahan sosial di wilayah pedesaan berjalan lambat, di wilayah perkotaan perubahan sosial berlangsung dengan sangat cepat, sedangkan di wilayah desakota

Dalam simpulannya, Dia mengemukan fakta fakta tunjukkan tentang transformasi agama yang terjadi pada masyarakat Desa Cihampelas telah membuktikan bahwa Transfotrmasi keagamaan yang terjadi pada masyarakat pedesaan yang awalnya bersifat “memaksa dan komunal “ tetapi ketika masyarakat pedesaan tersebut telah berubah menjadi masyarakat Desakota atau menuju masyarakat pra industri maka pola keagamaan masyarakat bersifat “pilihan dan individualis”dan pada jenis masyarakat seperti ini agama akan tetap bertahan  bila agama mampu mempertahankan fungsinya sebagai pemberi harapan kepada manusia sebagai seorang individu atau sebagai seorang mahluk sosial tanpa bersifat memaksa. Agama harus mampu hadir sebagai sebuah” solusi” bukan sebagai sebuah “masalah”. Dengan kata lain “Transformasi agama terjadi saat agama mampu berfungsi secara rasional dan mampu memberikan harapan dan pembebasan pada manusia”. *** (Harry Gibrant)



 

Komentar
Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet