Putra Cimahi Raih Gelar Doktor Pendidikan Islam

  • 222 views
  • 1 comments

Bandung,EKPOS.COM

Kerjas keras, jujur, ulet dan sabar selalu berakhir dengan kesuksesan, itulah ungkapan yang pantas dan layak disematkan kepada Septiyana, Pria kelahiran Baros,Cimahi, 5 September 1967 ini, telah sukses mengukir dengan tinta emas dalam karir akademisnya dengan meraih gelar Doktor  Bidang  Pendididkan  Islam, dengan  IPK  3,95 Yudicium sangat memuaskan dalam sidang terbuka Promosi Doktor yang di gelar di Aula Utama Gd Pasca Sarjana UIN SGD Bandung, Jln. Soekarno-Hatta, Selasa, 24/10/2017.
Pria yang menjabat Komisioner KPU Kota Cimahi ini, telah berhasil mempertahankan Disertasinya yang berjudul, “Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Berbasis wawasan Berbasis Multikultural Guru Untuk Membudayakan Demokrasi dan Teloransi Siswa,” (Studi Deskriptif Analitis di SMK Negeri I,SMK Negeri 2,dan SMK Negeri 3 Cimahi).
Dihadapan Tim Penguji yakni: Prof. DR. Nurwajah Ahmad EQ, MA., Prof. DR. Dadang Kahmad, M.Si., Prof. DR.Samsu Yusuf LN, Prof. DR.Agus salim Mansur,M.Pd, Prof. DR.Asep Saeful Muhtadi,M.Si, Prof. DR.Uus Ruswandi,M.Pd, Prof.DR. Muhibin SyahM.Ed, dan Dr. Deden Efendi,M.Ag, Anak ke lima dari delapan saudara  ini, sanggup dan mampu menjawab semua pertanyaan yang diajukan tim penguji. Bahkan dengan lihai dan argumentatif bisa mementahkan, meyakinkan, sekaligus menjelaskan secara detail, semua sanggahan yang di ajukan tim penguji.
Dalam pemaparan dan kesimpulannya, Septiyana, menjelaskan hasil pembahahasan,pengolahan, dan penafsiran data-data penelitian PAI berbasis wawasan multiultural guru untuk membangun budaya demokrasi di SMKN I Cimahi, SMKN 2 Cimahi, dan SMKN 3 Cimahi, mengungkapkan bahwa pembelajaran PAI yang diterapkan di tiga sekola tersebut, termasuk epektif dan optimal, karena sudah selaras dengan tujuan /kompetensi pembelajaran PAI, metodemateri/bahan ajar/mediadan evaluasi pembelajaran.
Selanjutnya,wawasan multikultural guru dalam proses pembelajaran PAI di tiga sekolah tersebut,memiliki kesadaran kesadaran multi kultural yang cukup memadai bagi seorang pendidik. Ditandai dengan pola pikir atau penegtahuan (knowledge) engan indikator guru mempunyaikonseptual tetang konseptual temtang gagasaan atau gagasan isu-isu global, memahami realitas  kemajemukan/heterogenitas,dan memiliki pengalamn lintas budaya. Pada Aspek sikap (attitude) telah terjadi interaksi pembelajaran anatar pendidik dan peserta didik sebagai obyek sekaligus subyek pendidikan. Diantara indikator sikap yakni  kemampuan merespon fenomena perbedaan,memberikan penilaian dalam kesederajatan,terampil mengelola pembelajaran (pedagogis) mampu membangkitkan minat belajar siswa, dan membangun secara manusiawi secara kondusif. Sedangkan pada aspek pola prilaku/pembelajarn (instructional), guru guru PAI senantiasa bertindak jujur dan benar, kasih sayang dan lemah lembut, saling menghargai/menghormati perbedaan  serta bisa memberika uswah(keteladanan) terhadap peserta didik.
Kemudian, dalam budaya demokrasi siswa di tiga SMKN tersebut, sudah dilaksanakn dengan baik, hal ini tersirat dari berbagai pola sikap dan prilaku mereka ketika menghidupkan lingkungan sekolah dalam suasana demokratis (musyawarah). Sedangkan budaya teloransi termasuk memiliki semangat  tinggi  dalam berteloransi. Dalam pembelajaran PAI berbasis wawasan multikultural guru untuk membudayakan demokgrasi dan teloransi, lebih menekan kan kepada makna dan spirit selama proses pembelajaran.
Bukan hanya itu, dalam wawasan multikultural guru PAI menjadi basis dan dasar bagi proses dan kegiatan membudayakan demokrasi dan teloransi siswa agar menjadi kebiasaan yang mengakar dan sukar berubah.Fokus penekanan pembudayaan demokrasi dan teloransi pada siswa yaitu terletak pada kontek bagaimana strategi cara guru PAI mendidik terhadap peserta didik supaya beradab dan berbudaya.
Selanjutnya, dari penelitian dan pembahasan Septiyana memberikan saran bahwa pihak manajemen (pengelola sekolah) atau kepala sekolah diharapkan: mampu mempertahankan dan  menumbuh kembangkan rangkaian aplikasi pembelajaran PAI berbasis wawasan multikultural guru baik dalam perencanaan, proses pembelajaran dikelas, maupun kegiatan pengembangan diri atau ekstrakulikuler, Melakukan upaya penembangan kualitas guru PAI melalui pendidian formal dan non formal profesi keguruan dalam  hal peningkatan wawasan multikultural guru dan siswa.Mampu melahirkan budaya demorasi dan teloransi siswa secara konprehensif dan berkesinambungan.Mengupayakan wawasan multikultural guru PAI menjadi  basis/ dasar bagi proses dan kegiatan membudayakn demokrasi  dan teloranso siswa agar menjadi kebiasaan  yang sukar berubah,  Pemerintah dan masyarakat atai elemen terkait lainnya diharapkan menjaga eksistensi sekolah ebagai rumah kedua bagi para siswa agar orang tua menjadi tenang dan nyaman meyekolahkan anaknya,ikut mendorong sekolah supaya berkembang dan berkarakter  maju,terutama pada nilai nilai multikultural, ikut menjaga kondusifitas di lingkungan sekolah.***(harry gibrant)
 
 
Komentar
  • Sumili
  • 31 Okt 2017 18:55:51

Selamat kepada bp Septian yang sudah memiliki gelar Doktor Pendidikan IslamπŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ™

Nama
Email
Komentar
Masukkan Angka berikut
Jika Anda pernah memberikan komentar sebelumnya di Ekpos, maka sebaiknya Anda menggunakan email yang sama dengan sebelumnya supaya Anda tidak harus melakukan verifikasi kembali.
Jika Anda belum pernah sebelumnya memberikan komentar, maka komentar Anda akan langsung muncul jika Anda sudah melakukan verifikasi. Proses verifikasi sangatlah mudah, Anda cukup meng-klik link yang kami kirim ke email Anda.
Email Anda tidak akan dimunculkan jika komentar Anda disetujui.
©2014 Ekpos All right reserved   Developed by javwebnet